Belajar dari Mbak-mbak ku disini
Aku tidak perlu pura-pura bahwa aku memang mengagumi mereka. Mbak-Mbakku tercinta itu. Hanya dengan melihatnya saja..aku sudah belajar akan banyak hal.
Dikota penempatanku ini… Allah telah mempertemukanku dengan mereka dalam aktivitas sebuah yayasan muslimah khususnya dan di dalam aktivitas PKSe umumnya.
Para Mbak-mbak ku itu. Tempat aku berkaca akan sebuah kedewasaan
Kebanyakan dari mereka adalah Pegawai. Ada yang PNS, guru, perawat, pegawai PEMDA, dsb. Dan waktu itu..banyak dari mereka yang belum menikah. Usia mereka semua hampir menjelang tiga puluh tahun, bahkan ada yg lebih dari itu. Ada yg 29, 31, 33 dan 36 tahun. Jelas di yayasan tsb aku paling muda, seperti adik kecil yang manis dihadapan mereka. Kadang aku menyukai suasana spt itu (maklum aku anak sulung yang lama tidak mendapatkan curahan kasih sayang). Terkadang aku bisa bermanja dihadapan mereka, walopun masih kesulitan untuk curhat
Seminggu yang lalu…kebahagiaanku membuncah. Pasalnya..salah seorang diantara mbakku itu akan menggenapkan setengah diennya awal bulan Mei ini. Ketika Mbakku itu menceritakan kepadaku dan memintaku untuk menjadi salah satu panitia walimahnya, reaksiku setelah sujud syukur…..aku persis seperti anak kecil yang dikasih hadiah. Aku sampai teriak dan meloncat-loncat sendirian. Apalagi ketika besoknya si Mbak menemuiku di kantorku untuk membagi kebahagiaannya, beberapa kali aku memeluknya dengan gemas. Hehehe… kalau ingat …konyol sekali
Aku turut begitu bahagia dg berita itu…..karena beliau lah yang paling sering mengisi bait-bait do’a robithohku. Sedangkan untuk Mbak-mbak ku yang lainnya, semoga Allah senantiasa menguatkan kesabaran mereka dan mempermudah urusan mereka. Bukan karena kasihan aku selalu mendoakannya. Tetapi karena aku mencintai mereka. Itu saja !!! Sebenarnya..aku tidak hanya melihat mereka saja (saudariku yang sudah berusia di atas tiga puluh tahun yang belum menikah). Ada banyak. Tetapi..mungkin karena kami berada dalam satu yayasan….sering bertemu….jadi aku lebih banyak menaruh hati kepada mereka. Ada sebuah kedekatan emosional.
Merekalah tempatku belajar akan sebuah kesabaran, sebuah kedewasaan, sebuah kesyukuran dan kepasrahan. Di saat dada ini mulai sesak akan dorongan fitrah untuk segera menikah dari keluarga, teman2 maupun orang2 sekitarku…….aku sering berlari ke arah mereka. Bukan untuk curhat….tp sekedar untuk bertemu dg mereka.
Melihat mereka saja sudah mampu menguatkanku. Dengan hanya melihat wajah-wajah mereka sudah mampu membuatku malu untuk mengeluh tentang kapan kah jodohku datang?
Mereka tetap istiqomah di jalan dakwah walaupun belum ada yang menguatkannya.
Mereka tetap bersemangat menunaikan amanah dakwah..walaupun kadang patner mereka hampir semua ‘anak-anak kecil’. Sepertinya tidak ada alasan bagi mereka untuk menarik diri dari kegiatan dakwah/jamaah. Walaupun terkadang kutanggap kilatan lelah di mata mereka menyaksikan para ummahat muda yang begitu ekspresif pamer kebahagiaan (seringnya tanpa mereka sadari) .Ketika bertemu mereka….hampir tidak pernah aku mendapati mereka berkeluh kesah tentang kesendirianya. Eh…pernah ding (kami mengobrolkannya sambil bergadang membuat semua perlengkapan untuk acara besar di yayasan)….tapi keluhan2 itupun jarang sekali mereka tunjukkan
Itu yang kemudian memang banyak membentuk sikapku yang cukup nyantai dengan yang namanya jodoh. Bukan berarti tidak berikhtiar. Tapi selebihnya tsiqoh ke Allah aja lah.
Aku meyakini bahwa jodoh, mati, rizki adalah hak prerogratif Allah. Untuk jodoh dan rizki..memang kita diwajibkan untuk ikhtiar tetapi ketika semua itu tidak sesuai harapan kita, jangan pernah putus asa, karena memang ada tangan yang jauh lebih berkuasa atas semua itu. Banyaklah berdoa karena hanya doa lah yang bisa merubah takdir kita.
Keyakinan itu semakin menguat…..ketika Allah mentakdirkanku menyaksikan pernik-pernik tentang jodoh disekitar hidupku. Atau sebenarnya orang lain juga melihatnya ya ? Tetapi aku saja kali ya…..yang apa-apa aku pikirin. Kukorek-korek hikmahnya dan berbicara pada diri sendiri sebagai pembelajaran.
Banyak sekali kepingan peristiwa yang akhirnya membawaku pada keyakinan bahwa jodoh itu telah ditetapkan. Kita perlu membangun ketsiqohan kita kepada Allah lebih dalam lagi di hati kita. Memang..bagi yang ditakdirkan oleh Allah menikah di usia yang relatif msh muda (seringnya seh orang awam, tp ternyata ada juga ikhwah yg masih mempertanyakan ttg itu), sering sinis menyikapi apapun sikap yang diambil oleh mereka yang berusia matang/cukup namun masih melajang.
Tenang…bersikap ridho, dikira kurang usaha (padahal kan belum tentu).
Mengeluh pun akan menimbulkan apresiasi lain lagi. Serba salah….. Aku pernah mendengar ungkapan sinis, “Makanya jangan terlalu mandiri, jangan galak-galak bla..bla….” Pokoknya serba memojokkan. Ada juga yang melihat kelajangan saudari kita sebagai azab (musibah) yang menimpa karena kesalahan-kesalahan masa lalunya. Karena dulu menolak seseorang..atau karena kesalahan yang lainnya.
Yup, bisa jadi ! Rosullullah sendiri pernah memperingatkan kepada kita..” Jangan menolak pinangan orang sholih.karena dikhawatirkan akan timbul fitnah setelahnya”. Atau juga pesan Rosullullah tentang “Bisa jadi musibah itu datang karena kesalahan kita sendiri’”.
Memang benar ! Ada yang seperti itu.
Tetapi ada juga yang memang apa yang menimpanya itu murni ujian untuk meningkatkan imannya. Hanya Allah yang tahu apa sesungguhnya yang terjadi. Sebagai manusia kita tidak punya hak untuk memvonis saudara kita yang belum didatangkan jodohnya. Janganlah kalian menanyakan “kenapa belum menikah?” kepada mereka…karena sesungguhnya terkadang itu menjadi pertanyaan yang menyakitkan buat mereka. Sungguh !!!! bukan karena ketidakinginan menikah ato tidak berusaha mencari jodoh. Sebaiknya kita ber-husnudzhon saja tentang itu semua. Semua itu berpulang kembali kepada Allah SWT…yang berkuasa terhadap datangnya jodoh itu.
Afwan… ini berkaitan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh teman2 (baik yg awam maupun yang ikhwan) kepada saya tentang apa alasan saya sehingga belum menikah? Padahal usia sudah cukup dan maisyah pun sudah tercukupi? Subhanallahu…Maha Suci Allah yang Maha Tahu atas Segala sesuatunya
Kita tidak tahu posisi kita dimana. Adalah bijak kalau kemudian kita perbanyak istigfar, mohon ampunanNya..sehingga kalaupun apa yang menimpa kita akibat kesalahan kita..semoga Allah menjadikan kafarat dosa kita yang akan meringankan beban kita di akhirat kelak.
Dan semoga apa yang menimpa kita Allah jadikan sebagai penggugur dosa kita. Dan sebagai wasilah menaikkan iman kita. Amien. Miris rasanya kalau menyaksikan..ujian yang Allah berikan kepada kita menjadikan kita semakin jah dariNya. Berputus asa atas rahmatNya. Malah mendekati laranganNya. Ikhtiar dengan sesuatu yang dimurkaiNya.
Mengikhtiari jodoh dengan berpacaran. Aneh rasanya..kalau di jaman sekarang masih ada saja yang tidak paham kalau pacaran tidak ada dalam kamus Islam. Atau jatuh ke dalam dunia klenik, mendatangi dukun atau ‘kyai’. Semoga Allah menjaga kita dari itu semua.
Menyibukkan diri dengan amal sholih, dan amal-amal dakwah lainnya.
Tegar walau masih sendirian. Terus menerus menyibukkan waktunya untuk berusaha untuk menjadi manusia terbaik…..yaitu yang bermanfaat untuk manusia lain. Tapi juga bukan yang selalu sibuk…..mbulet dengan persoalan pribadi kita..sehingga lupa persoalan umat ini.Bukannya terus menerus bermimpi sehingga malah lupa menyiapkan diri. Memang berat…tetapi kuyakin kita bisa, dengan azzam yang selalu kita perbarui lewat tarbiyah yang selalu kita jalani dengan baik.
Wallau’allam bishowab….
NB : jangan ada lagi pertanyaan2 yang seperti itu ya Prends?
insya allah jodohnya Indhi bakal ketemu.
ane cuman bisa mendo’akan aja.
:)
Comment by andi — June 8, 2006 @ 7:47 am
Jangan mau jadi bulan-bulanan tempat curhat cewek, percuma itu taktik yang bloon, ngga bakalan bisa ngegebet dia. makanya visit hitmansystem.com : solusi anti jomblo yang kamu tunggu-tunggu…
Comment by qute — February 20, 2007 @ 3:49 am
yang sabar ya ukhti segala sesuatunya akan terlihat indah pada waktunya
Comment by nda — October 1, 2007 @ 3:24 am
jgn jd shbt yg suka memftnah shbt sndri
Comment by suhardi — September 16, 2008 @ 3:06 pm